Ngeri! Suhu Mendidih Bisa Jadi Tanda ‘Kiamat’ Semakin Dekat

Serangan udara yang diluncurkan oleh Turki telah menghantam beberapa kota di Suriah utara, termasuk Kota Kobane pada Sabtu malam (19/11) waktu setempat. (AP/Baderkhan Ahmad)

Belakangan masyarakat di penjuru dunia tengah diterjang ‘suhu neraka’. Hal yang tidak biasa ini tengah menjadi perbincangan hangat dunia terkini. Beberapa negara pun mencapai rekor suhu terpanas dalam sepekan terakhir.

Bangladesh merupakan negara yang tembus di atas suhu 50 derajat celcius. Tepatnya di Kumarkhali, Kushtia dengan suhu 51,2 derajat celcius pada 17 April 2023.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat ada 10 kota terpanas di Asia lainnya terjadi sebagian besar di Myanmar dan India. Menurut BMKG, hal ini terjadi karena gelombang panas atau heatwave tengah melanda Asia. Indonesia disebut tidak mengalami heatwave, tetapi turut merasakan cuaca yang panas belakangan ini.

Di Indonesia sendiri, pada 20 Maret lalu BMKG sempat memberikan peringatan mengenai penyebab suhu udara ekstrem. Tidak lain hal itu disebabkan oleh fenomena perubahan iklim yang semakin mengkhawatirkan.

Dampak perubahan iklim ini tak bisa dianggap ‘main-main’. Mulai dari dampak lingkungan, pertanian, hingga menyerang sektor lainnya. Sebelum terjadi dampak negatif lebih jauh rasanya kita perlu belajar dari kekaisaran pada abad ke-16.

Di akhir abad ke-16, ratusan bandit berkuda menyerbu Anatolia yang saat ini merupakan wilayah Turki yang berada di bawah Kekaisaran Ottoman. Mereka menjarah berbagai desa, menebar kekerasan, dan menggoyahkan kekuasaan sultan.

Empat ratus tahun kemudian dan sekitar beberapa ratus kilometer dari situ, yakni di Suriah yang juga bekas wilayah Kekaisaran Ottoman beberapa gerakan protes meluas dan berujung perang saudara pada tahun 2011 yang memakan banyak korban. Konflik tersebut masih berlangsung hingga hari ini.

Sejarah gelap di daerah Mediterania ini memuat beberapa pelajaran berharga bagi masa depan. Keduanya melibatkan gelombang manusia yang terpaksa pergi dari rumah mereka, terkait erat dengan dinamika kekuasaan, serta memiliki konsekuensi politis yang besar.

Untuk diketahui, Kesultanan Utsmaniyah atau dikenal Kekaisaran Turki Ottoman merupakan kerajaan Islam terbesar yang bukan dari tanah Arab.

Kesultanan ini didirikan oleh suku-suku Turki di bawah pimpinan Osman Bey atau Osman I. Dengan ibu kota berada di Konstantinopel, negara adidaya ini pernah menguasai wilayah yang luas di Timur Tengah, Eropa Timur, dan Afrika Utara selama lebih dari 600 tahun (1299-1924 M).

Melemahnya Kekaisaran Ottoman

Sebelum titik ini, Kekaisaran Otoman memang merupakan suatu rezim terbesar di masa awal era modern. Kekaisaran ini menguasai sebagian besar daratan Eropa, Afrika Utara, dan Timur Tengah, serta memiliki kendali penuh atas situs-situs suci Islam, Kristen, dan Yahudi.

Selama berabad-abad sebelumnya, pasukan Ottoman bahkan telah berekspansi ke Asia Tengah, mencaplok sebagian besar daerah di Hongaria, dan menerobos Kekaisaran Hapsburg untuk menggertak Wina pada tahun 1529. Pemberontakan Celali kemudian menimbulkan konsekuensi politik yang begitu besar.

Pemerintah Ottoman pada akhirnya berhasil mengembalikan kestabilan di daerah pedesaan Anatolia pada tahun 1611, tetapi dengan pengorbanan yang besar. Kendali sultan atas berbagai provinsi melemah secara permanen. Tantangan internal ini menghambat upaya Kekaisaran Ottoman dalam melakukan ekspansi wilayah.

Pemberontakan Celali mengakhiri “Zaman Keemasan” Ottoman dan membuat kekaisaran ini terjun ke dalam jurang kehancuran dan terpaksa melakukan desentralisasi, serta mengalami kemunduran militer dan juga pelemahan sistem pemerintahan yang kelak menyusahkan negara ini selama tiga abad terakhirnya.

Perubahan Iklim Memperparah Ancaman yang Sudah Ada

Kerusakan lingkungan yang bertepatan dengan kerusuhan sosial membawa Suriah ke dalam perang sipil yang berkepanjangan dan banyak sekali memakan korban.

Konflik ini muncul dengan dilatarbelakangi tekanan politik dan gerakan kebangkitan dunia Arab yang juga disertai salah satu kekeringan terburuk sepanjang sejarah Suriah.

Itulah sebabnyapakar militer menganggap perubahan iklim sebagai faktor yang memperparah ancaman keamanan.

Memasuki dekade yang kedua, perang Suriah telah memaksa sekitar 13 juta warganya harus meninggalkan rumah mereka. Setengahnya menjadi pengungsi di Suriah, sementara sisanya mencari perlindungan di negara-negara tetangga, Eropa, dan sekitarnya, sehingga membuat krisis pengungsi global semakin parah.

Lantas Apa Pelajaran yang Bisa Kita Ambil?

Sejarah tersebut menawarkan beberapa pelajaran penting bagi kita. Pertama, dampak negatif perubahan iklim bisa menimpa individu-individu miskin dan terpinggirkan secara jauh lebih besar dibanding kelompok ekonomi lain https://lahan-duit.site/. Padahal, mereka adalah kelompok yang paling tidak mampu merespons dan beradaptasi.

Kemudian, tantangan lingkungan cenderung memiliki dampak yang paling besar ketika terjadi bersamaan dengan keresahan sosial. Bahkan, keduanya sering kali terkait erat dan tidak dapat dipisahkan.

Perubahan iklim memiliki potensi untuk mendorong terjadinya migrasi massal, memacu berbagai tindak kekerasan, menjatuhkan rezim, mengubah tatanan masyarakat serta kehancuran masal di muka bumi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*